Senin, 30 Januari 2012

Mahasiswa dan Idealisme yang Terpasung

(Analisa), Membincang mahasiswa masa kini hanya akan berujung pada kekecewaan mendalam di hati. Terlampau sering mahasiswa (di-)lenyap(-kan) gereget kristisnya. Terlalu banyak mahasiswa yang Cuma (di-)jadi(-kan) pelengkap-penderita rapuhnya sistem pendidikan di negeri ini.

Mahasiswa jadi demikian gamang tatkala berhadapan dengan sistem korup negaranya. Alih-alih negara, korupsisme yang melanda kampusnya secara tak kasatmata pun acapkali lewat begitu saja oleh apatisme yang telah jadi ”watak” mahasiswa itu sendiri.

Boleh jadi mahasiswa tahu (atau yang paling tahu) akan korupsisme itu. Akan tetapi, kelenaan dari luar dan dari dalam (diri)-lah yang menggerogoti mentalnya sepanjang waktu. Kelenaan dari luar berwujud sikap represif yang dilancarkan pihak pemegang kuasa, baik di negara maupun di kampus. Sementara kelenaan dari dalam mengejawantah lantaran kelenaan dari luar: kegamangan, ketidakberanian, lantas memunculkan apatisme.

Jadi, mesti bagaimanakah kita melihat mahasiswa dewasa ini? Bukan dengan menafikan peran masa lalu an sich, melainkan dengan memanfaatkan sepenuhnya kesilaman sebagai suatu teropong dan batu uji, yang akhirnya bakal mengantarkan kita pada perbandingan-perbandingan. Karena, kita tahu, masa lalu dan masa depan adalah sejarah yang berkesinambungan (continuous history).

Terjebak pada rutinitas
 Mahasiswa masa kini adalah makhluk dengan beragam raison d’etre (alasan pembenar). Ketika menyaksikan sesama teman mengalami kesulitan dalam hal keruwetan birokrasi kampus, mahasiswa lain cenderung bilang, ”Ah, untung bukan saya...”

Kala mendapati teman sibuk menghelat sebuah seminar atau diskusi ilmiah, mereka berujar, ”Ah, capek. Malas mikir.” ketika ada advokasi untuk masyarakat kecil, sebagian cuma berkata, ”Ngapain, buang-buang waktu dan tenaga saja.”

Namun, dalam hal-ihwal kuliah, mahasiswa senantiasa antusias, meski kuliah yang terselenggara kerap tak bermutu. Mahasiswa selalu menyempatkan hadir, dan tak hendak mengajukan protes bila kemudian sang dosen justru tak hadir tanpa alasan yang rasional. Mahasiswa sekarang telah terjebak pada rutinitas membosankan: berangkat-kuliah-nongkrong-pulang.

Lantas, apakah mahasiswa jadi tak doyan berorganisasi? Ternyata tidak. Banyak mahasiswa berbondong-bondong masuk organisasi tertentu, baik intra maupun ekstrakampus. Namun, yang jadi soal, perkara berhenti sampai di situ. Alasan kenapa dan buat apa ia berorganisasi tak menjadi bahan permenungan yang berarti. Berorganisasi cuma sebatas berorganisasi, titik. Tidak lebih.

Tujuan pendirian organisasi yang, antara lain, demi menumbuhkan idealisme, kepekaan sosial, atau ghirah intelektual seakan dikebiri menjadi sekadar ajang pertemanan, komunitas gaul, dan tempat kumpul pegiat hedonisme.

Tidak kristisme dalam organisasi itu. Tiada kemauan sekaligus kesadaran mahasiswa buat mewujudkannya.

Membaca, menulis, berdiskusi
Jawaban atas beberapa ”kejumudan” tadi sesungguhnya terletak pada kian carut-marutnya sistem dan dunia pendidikan kita dewasa ini. Pendidikan yang lebih berorientasi pada hasil ketimbang proses patut patut kita sudutkan sebagai tersangka utama.

Di kampus, mahasiswa acapkali terbelenggu oleh kebijakan kampus yang cenderung memasung kepribadian dalam berkegiatan di dunia luar. Sistem Kredit Semester (SKS) kian kaku dan “otoriter”, mempersempit ruang gerak mahasiswa. Tiada pilihan lain buat mahasiswa selain kuliah, kuliah, dan kuliah. Jikapun berorganisasi, organisasi itu kudu tak menyita terlalu banyak waktu kuliah.

Sikap beginilah yang menghasilkan budaya yang benar-benar baru ketimbang pendahulu-pendahulu mereka, angkatan ’66, ’84 atau ’98: mahasiswa menjadi semakin pragmatis dan kompromistis, melihat persoalan dari posisi yang paling sedikit risiko. Idealisme kerap digadaikan demi kepentingan jangka pendek.

Di sinilah pentingnya berkaca dari masa lalu. Semangat intelektualitas di era ’66, ’84, dan ’98 mesti dihidupkan kembali. Semangat yang menjadikan membaca, menulis, dan berdiskusi menjadi kegiatan pokok mahasiswa yang lantas melahirkan kritisisme, kepekaan sosial, dan idealisme tinggi. Sebuah ikhtiar yang sesungguhnya sederhana, bukan?

Oleh : A.P.Edi Atmaja 

(Penulis adalah Penerima Beasiswa Unggulan Program Fasttrack Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI pada Magister Ilmu Hukum Universitas Diponegoro)

ARTIKEL TERKAIT:

2 komentar:

  1. cukup menarik,,,mungkin anda nanti bisa menjadi dosen dmana arah dan tujuan seperti itu,,...biarpun pada dasarnya saya bodoh karena tdk begitu mengerti bgt maksud dan tujuannnya :D...

    semoga anda bsa menjadikan indonesia ini selalu berkata bisa dan menjadikan mereka ga jd pengekor yang paling bnyak itulah menurut saya :D

    ====get nice======

    BalasHapus
  2. Makasih mas atas kunjungannya.
    Thanks atas komentarnya.

    BalasHapus
:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( :-p =))

Silahkan luangkan waktu Anda menuliskan komentar untuk BLOG ini..
Setetes komentar Anda sangat berarti buat saya...^_^

Blogger Template by Clairvo